Illustrasi. Dok; MI.
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun setelah data neraca perdagangan indonesia November 2018 mencatatkan defisit terburuk di tahun ini. Defisit ini karena ekspor indonesia terhalangi efek perang dagang dari Indonesia-Tiongkok. Selain itu efek perang dagang juga berimbas ke mata uang rupiah yang terkoreksi tipis. Rupiah turun karena ketakutan investor terhadap efek perang dagang ini.
IHSG pada penutupan perdagangan hari ini melemah 80,53 poin dengan berada pada 6.089. Volume dagang mencapai 6,2 miliar lembar saham dengan nilai sebesar Rp5,7 triliun. Sebanyak 157 saham naik dan 280 saham turun. Tercatat semua sektor memerah dengan pelemahan terdalam adalah di sektor konsumer dan pertambangan. Sektor yang naik hanya perkebunan.
Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada sebelumnya memprediksi adanya penguatan dalam gerak IHSG yang sempat menyentuh dan melampaui area middle bolling band. "Sehingga memberikan peluang bagi rupiah untuk dapat kembali bergerak menguat," ujar Reza dalam riset hariannya, Senin, 17 Desember 2018.
Mata uang rupiah Senin 17 Desember 2018 berdasarkan data Bloomberg jatuh 1,3 poin dengan berada pada Rp14.580 per USD. Kemudian Yahoo Finance mencatat mata uang rupiah koreksi lima poin dengan berada pada Rp14.570 per USD. Bank Indonesia mencatat mata uang rupiah melemah dengan berada pada Rp14.617 per USD.
Melemahnya mata uang rupiah karena mata uang indeks dolar diperkirakan bergerak menguat di level 97,4-97,8 terhadap hampir semua mata uang kuat dunia lainya. Mata uang dolar AS pun kembali menjadi aset safe haven seiring semakin menguatnya kekhawatiran investor terhadap prospek perekonomian global tahun depan pasca rilis beberapa data ekonomi AS-Tiongkok yang menunjukkan pelemahan.
Di sisi lain mata uang yuan terkoreksi cukup dalam sebesar 0,38 persen ke level 6,90 per USD pada Jumat pekan lalu. Data Industrial Production Index Tiongkok yang hanya tumbuh 5,4 persen di November merupakan yang terendah sejak 2003.
Pelemahan yuan tersebut kemungkinan akan berdampak buruk bagi rupiah. Jelang rilis data neraca perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan masih akan terbebani defisitnya data neraca perdagangan November yang diperkirakan sebesar minus USD810 juta. "Rupiah kemungkinan melemah ke level Rp14.590 per USD-Rp14.650 per USD," kata tim analis Samuel Sekuritas.
(SAW)
https://ift.tt/2Ac95Pp
December 17, 2018 at 04:55PM from METROTVnews.com https://ift.tt/2Ac95Pp
via IFTTT
No comments:
Post a Comment